SELAMAT DATANG DI BLOG KOREM 152/BABULLAH

KESULITAN MAKANAN DITENGAH LUMBUNG PANGAN

Posted by Korem 152 Baabullah 2/09/2015 0 komentar
Oleh : Sertu Deva Wirathama Putra / Anggota Penrem 152/Bbl
    Negara Indonesia yang terletak di garis ekuator bumi yang sering disebut jamrud khatulistiwa memiliki sumber daya alam melimpah dan tanahnya subur seharusnya menjadi negara yang subur makmur "gemah ripah loh jinawi" aman sentosa kerta raharja. Namun pada kenyataannya saat ini masih banyak rakyat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan bahan kebutuhan pokok kita harus mengimport dari luar negeri, sungguh ironis keadaan saat ini kita bagaikan kelaparan di lumbung pangan, banyak anak-anak Indonesia yang tidak terpenuhi kebutuhan gizinya bahkan masuk pada kriteria gizi buruk, masih banyak masyarakat kita yang tidak terpenuhi kebutuhan nutrisinya, menurut realese dari Wolrd Health Organisation (WHO) tingkat pemenuhan Angka Kecukupan Gizi (AKG) masyarakat Indonesia baru mencapai 47% angka tersebut terbilang sangat memprihatinkan bila mengingat melimpahnya Sumber Daya Alam yang terkandung di perut bumi pertiwi ini. Indonesia sendiri pernah mencapai swasembada pangan pada era tahun 90-an. Namun apa yang terjadi saat ini, kita masih mengimport 29 Jenis bahan kebutuhan poko antara lain beras, jagung, gandum, kedelai, daging dll. Bahkan yang lebih menyedihkan kita yang notabene adalah negara kepulauan yang wilayah peraiarannya lebih luas dari pada daratan kita masih mengimport garam dari luar negeri. Muncul sebuah pertanyaan besar di benak kita masing-masing. Mengapa kita harus menggantungkan kebutuhan kita kepada luar negeri, apakah kita tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri mengingat begitu besarnya potensi sumber daya alam kita miliki. Jawabannya ada pada diri kita sendiri.

     Disini penulis akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada seluruh pembaca untuk dijawab di benak anda masing-masing.
1. Tahukan para pembaca sekalian berapa sisa lahan pertanian kita saat ini?
2. Tahukan para pembaca mengapa anak-anak generasi saat ini lebih tertarik kepada profesi lain dibandingkan menjadi petani.?
3. Tahukah para pembaca, mengapa para petani kita tetap dalam keterpurukan meskipun saat ini harga hasil bumi terus meroket?
4. Tahukah para pembaca mengapa produksi hasil bumi  dalam negeri kalah dengan produk dari luar?

     Tentu dari beberapa pertanyaan saya diatas tentu masing-masing pembaca memiliki jawaban masing-masing. Namun disini  penulis mencoba memaparkan pendapat versi penulis antara lain, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Laju konversi lahan pertanian per tahun mencapai 100.000-110.000 Ha, sedangkan saat ini pemerintah hanya dapat membuka lahan pertanian baru hanya 50.000-60.000 Ha/Tahunnya, begitu pun jumlah rumah tangga petani berkurang drastis 5 Juta dalam kurun waktu 10 tahun, 82 % petani kita masih menggunakan teknologi dan cara bercocoktanam konvensional. Setidaknya dari data diatas sedikit banyak menjawab pertanyaan diatas, secara tidak sadar kita telah merubah paradigma kehidupan kita dari agraris menuju ke industrialis, sebagai buktinya berdasarkan data diatas begitu besar lahan pertanian kita yang telah berubah fungsi menjadi perumahan, mal, pabrik dll. Selain itu hanya tersisa sekitar 47 % masyarakat kita yang saat ini berprofesi sebagai petani baik di palawija, buah, rempah dll. Keadaan tersebut diperparah dengan masih tertinggalnya teknologi dan metode pertanian kita dibandingkan dengan negara luar yang tentu akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil produksi pertanian kita.

Berdasarkan hal tersebut diatas melalui tulisan ini penulis mengajak kepada seluruh pembaca sekalian, untuk merubah mind set/pola pikir kita masing-masing dari gaya hidup yang konsumtif menjadi produktif terutama dibidang kebutuhan pokok kita mulai dari untuk konsumsi diri sendiri dan diharapkan kedepannya dapat memberikan nilai ekonomis yang dapat menopang kehidupan. Sejalan dengan Program Presiden RI H. Joko Widodo yang saat ini sedang mencanangkan Ketahanan Pangan Bahan Pokok dalam negeri dalam target waktu 3 tahun Indonesia bisa mencapai Swasembada Pangan.

     Lalu bagaimana kita sebagai warga negara untuk mendukung program pemerintah tersebut? Jawabannya kita dahulukan dengan niat pada diri masing-masing untuk berubah menuju perubahan yang lebih baik, kita memanfaatkan lahan tidur yang selama ini dibiarkan ditumbuhi rumput liar kita sulap menjadi kebun yang ditanami tanaman/sayuran jangka pendek seperti jagung, tomat, terung dll. Apabila hal tersebut masih dirasa berat dengan sejuta alasan antara lain kesibukan, tidak ada waktu dll. mari kita mulai dari hal terkecil disekitar rumah kita antara lain memanfaatkan lahan kosong di rumah kita apabila tidak ada lahan pun kita dapat menggunakan Polybag untuk menanam tanaman untuk kebutuhan untuk dapur kita sendiri seperti cabe, tomat, sawi, terung dll, penulis kira hal tersebut dirasa tidak terlalu merepotkan kita hanya tinggal meluangkan sedikit waktu dipagi dan sore hari untuk sekedar menyiram, memupuk dan menyingkirkan hama tanaman. Dan dalam waktu yang tidak akan lama kita akan mendapat manfaatnya ditengah harga sayur mayur yang terus meroket terutama menjelang hari besar keagamaan kita dapat memproduksi sendiri untuk kebutuhan sendiri selain memberikan dampak ekonomis secara tidak langsung dapat menyediakan sayuran fresh dan sehat untuk kita dan keluarga yang tentu saja akan meningkatkan kesehatan kita. Ketika sudah mencapai titik itu penulis yakin akan memberikan motivasi tersendiri kepada pelakunya untuk terus dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya dengan beralih kepada lahan yang lebih besar dan terus memperbaiki metode cocok tanamnya dengan mengikuti pelatihan maupun mencari referensi di buku maupun di internet.

     Mudah bukan? Oleh karena itu penulis mengajak kepada seluruh khalayak ramai mari tingkatkan taraf hidup kita menuju ke arah yang lebih baik, tidak ada kata terlambat untuk maju selama tubuh ini masih dikaruniai kesehatan dan kekuatan oleh Tuhan YME serta masih memiliki lahan subur yang sangat luas. Kita patut mensyukuri hal tersebut.

    Demikian tulisan ini kami buat, besar harapan penulis bahwa tulisan ini dapat bermanfaat bagi khalayak ramai. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan tulisan maupun data. Terima Kasih.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: KESULITAN MAKANAN DITENGAH LUMBUNG PANGAN
Ditulis oleh Korem 152 Baabullah
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://wartakorem152.blogspot.com/2015/02/kesulitan-makanan-ditengah-lumbung.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

EMAIL WARTA BABULLAH | Copyright of WARTA BAABULLAH.